Konsumen Cerdas Indonesia Tak Perlu Tergoda Kemewahan Duniawi

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam edisi terbaru di sebuah jurnal psikologi konsumen, peneliti dari Universitas Peking mengeksplorasi mengapa sulit bagi konsumen untuk belajar dari pengalaman mereka sendiri dalam mengkonsumsi suatu produk. Mengapa pengemudi mobil mewah percaya bahwa mobil mereka adalah sumber utama dari sukacita atau kebahagiaan, meskipun sering kali mereka akan merasa sama saja ketika naik mobil ekonomi.

 

 

Untuk mengilustrasikan, peneliti meminta mahasiswa di Universitas Michigan, Amerika Serikat, tentang seberapa intens mereka akan merasakan emosi positif atau negatif saat mengemudi BMW, Honda Accord atau Escort Ford. Mereka diminta untuk memberi poin sampai 10.

Sesuai dengan pandangan sebagian besar orang, yang bukan konsumen cerdas paham perlindungan konsumen, para mahasiswa diharapkan untuk merasakan intensitas perasaan positif yang meningkat seiring dengan meningkatnya nilai mobil. Ini jika kita mengandalkan pengetahuan umum tentang apa yang harus mereka rasakan ketika mengendarai mobil mewah.

Selanjutnya, para peneliti bertanya pada responden survei lainnya (bukan mahasiswa) tentang apa jenis mobil yang mereka kemudikan dan apa yang biasanya mereka rasakan saat mengemudi itu. Serupa dengan mahasiswa tadi, para responden ini melaporkan emosi lebih positif ketika nilai mobil mereka lebih tinggi.

Prediksi hedonis para mahasiswa itu memang tepat sasaran, meskipun banyak dari mereka yang sebenarnya tidak pernah menaiki mobil yang mereka prediksikan. Namun, responden survei lainnya diminta untuk mengingat perjalanan terbaru mereka ketika bekerja atau terakhir kali mereka mengendarai mobil mereka selama setidaknya 20 menit, terlepas dari sifat sebuah perjalanan. Para peneliti kemudian bertanya bagaimana perasaan mereka saat mengemudi selama perjalanan mereka yang spesifik. Pada akhir survei itu, peneliti baru bertanya apa jenis mobil yang mereka kemudikan. Dalam kasus ini, nilai mobil tidak membuat perbedaan dalam laporan pengemudi tentang apa yang mereka rasakan.

Ini adalah bukti bagi konsumen cerdas yang paham perlindungan konsumen. Singkatnya, mobil bisa membuat perbedaan ketika konsumen terfokus pada mobil, tetapi tidak sebaliknya. Sayangnya, ini sulit untuk dilihat bagi konsumen paham perlindungan. Selama test drive dari mobil baru, perhatian kita terfokus pada mobil, dan kita akan merasa bahwa lebih mewah itu lebih baik. Perasaan kita sebagai konsumen ketika mencoba mengemudi mobil mewah dari showroom adalah sebuah perasaan yang nyata dan menarik.

Tapi bagi konsumen cerdas paham perlindungan konsumen, mereka akan menyadari bahwa setelah mereka memiliki mobil mewah selama beberapa minggu, maka mereka tidak lagi fokus pada mobil yang dikendarai, melainkan fokus pada hal lain ketika mengemudi. Segera setelah itu terjadi, mereka akan tahu bahwa mengemudi mobil alternatif yang lebih murah rasanya juga sama.

Baik berbelanja online maupun offline, konsumen cerdas Indonesia tak perlu tergoda kemewahan duniawi semata. Tapi tentu itu semua tergantung diri Anda, membeli mobil mewah itu tidak ada salahnya, karena semua tergantung niat :-)

 

Sumber: http://ns.umich.edu/new/releases/8491