Puas Diri atau Qana'ah

Puas

 

Saya baru membaca posting di sebuah forum tentang sifat puas diri atau qana'ah dalam bahasa Arabnya.

Apakah beda puas diri dengan kikir?

Sebelum membicarakan hal ini, kita harus memahami makna puas diri dan perbedaannya dengan kekikiran.

Makna puas diri / qana'ah dan perbedaannya dengan kekikiran:


1. Apa itu puas hati atau puas diri?

Puas diri adalah rasa cukup akan sesuatu yang dimiliki, baik itu status atau situasi, meskipun kecil. Dalam sunnah, kata puas diri [qana’ah] telah digunakan untuk merujuk pada rasa kepuasan dalam makna absolut. Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Usman bin Hunaif, Imam Ali (a.s.) mengatakan:

“Apakah saya akan puas dipanggil Amirul Mukminin, walaupun saya tidak turut serta dengan rakyat dalam kesukaran-kesukaran dunia? Ataukah saya harus menjadi suatu teladan bagi mereka dalam kesedihan-kesedihan hidup?”

Dalam ilmu moral, kata 'puas diri' digunakan sebagai lawan kata dari ketamakan. Sikap ini membuat seseorang merasa cukup akan kebutuhannya dan terhindar dari menginginkan yang labih. Bahkan, rasa puas diri adalah rasa ketenangan dan kebahagiaan aktif. Orang yang puas tidak merasakan keinginan untuk melakukan sesuatu demi mencapai hal tertentu karena ia sudah merasa puas akan apa yang dimiliki.

2. Perbedaan puas diri dengan kekikiran

Puas diri kurang lebih bisa diterapkan dalam moralitas seseorang, dan ada hubungannya dengan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki dengan baik meski hanya sedikit, serta menghindari penggunakan yang berlebihan dari keberlimpahan yang disediakan, meski hanya sedikit. Manfaat merasa puas diri adalah menikmati semua hal yang sudah dimiliki.

Sebaliknya, kekikiran atau tidak puas diri adalah keadaan dimana seserorang mengekspresikan ketidakpuasan, ketidakpuasan, kejengkelan, dan ketamakan. Karena itu, kekikiran, yang berhubungan dengan moralitas sosial, adalah keengganan atau ketidakmauan untuk berbagi sesuatu dengan orang lain dan ketika ia harus menggunakan aset keuangannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Puas diri atau puas hati adalah sikap saleh, toleran, dan puas akan apa yang dimiliki, status, atau situasi sementara kekikiran adalah sikap jahat yang berasal dari keegoisan dan kejahatan nafsu.

Manusia dibagi menjadi empat kelompok untuk masalah ini:

1. Orang yang makan dan memberi pada orang lain apa yang mereka makan, mereka suka memberi.

2. Orang yang tidak makan tapi memberi pada orang lain apa yang mereka ingin makan, mereka adalah orang yang tanpa pamrih.

3. Orang yang makan tapi tidak mau memberi pada orang lain, mereka adalah orang kikir.

4. Orang yang tidak makan maupun memberi, mereka adalah orang yang kikir dan jahat.

Jika seseorang tidak menggunakan apa yang ia punya dan tidak mau memberinya pada orang lain, ini adalah tingkat tertinggi dari kekikiran dan kejahatan, yang lebih buruk dari sekedar kekikiran karena seorang yang kikir tidak memberi apa yang ia punya pada orang lain namun ia sendiri memakainya.

Sumber: http://islamquest.net/en/archive/question/fa14614